syarat komunikasi yang baik

Konteks komunikasi terdiri dari 3 dimensi, yaitu:

  • Dimensi Spasial
    Apapun bentuknya, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pesan atau komunikasi. Contohnya pada cara duduk di kelas. Mahasiswa dalam kelas yang duduknya melingkar mampu berkomunikasi lebih baik daripada mahasiswa dalam kelas yang duduknya berbaris ke belakang.
  • Dimensi Sosial-Psikologis
    Merupakan tata hubungan status di antara mereka yang terlibat komunikasi. Biasanya merupakan peran atau permainan yang dijalankan orang-orang. Contohnya saja peran mahasiwa dan dosen pada sekelompok orang dalam ruang perkuliahan.
    Konteks lainnya adalah aturan budaya masyarakat di suatu area yang digunakan dalam berkomunikasi. Contohnya saja budaya di sekitar Gunung Merapi yang membuat masyarakatnya sulit dipindahkan.
    Selain itu, ada juga rasa persahabatan atau permusuhan, hubungan formalitas atau informalitas, dan dalam situasi yang serius atau senda gurau.
  • Dimensi Temporal
    Komunikasi memerlukan konteks waktu. Biasanya, dimensi waktu antara lain: jam, hari, minggu, bulan, pagi, siang, sore, dan malam. Dimensi waktu biasanya dalam hitungan sejarah, dan konteks sejarah sangat mempengaruhi proses komunikasi. Pesan yang disampaikan seabad yang lalu, belum tentu sama bila pesan tersebut disampaikan saat ini.

Ketiga dimensi konteks komunikasi, digambarkan dalam contoh berikut:

Terlambat memenuhi janji kencan (konteks temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (konteks sosial-psikologis) antara sepasang sejoli yang menyebabkan perubahan kedekatan-kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk kencan(konteks lingkungan fisik).

Konteks harus menjadi perhatian dalam berkomunikasi. Contohnya pada Event Organizer. Mereka harus mampu melihat konteks waktu dan tempat dalam penyelenggaraan kegiatannya.

Komponen Komunikator

Komunikator dan komunikan adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

  • Komunikator = Sumber (Source) = Pengirim (Sender) = Encoder
    • Komunikator = Orang yang menyampaikan pesan
    • Source = Asal muasal pesan bersumber
    • Sender = Pengirim pesan
    • Encoder = Orang yang meng-enkoding = in + code => orang yang membuat pesan dengan kode-kode tertentu
    • Encoding = pembuatan pesan-pesan dalam kode-kode tertentu. Tugasnya adalah memformulasikan pesan.
  • Komunikan = Audience = Penerima (Receiver) = Decoder
    • Komunikan = Orang yang menerima pesan
    • Audience = Komunikan yang banyak
    • Receiver = Penerima pesan
    • Decoder = Orang yang menguraikan kode-kode tertentu dari sebuah pesan yang diterimanya. Tugas Decoder adalah menguraikan pesan.

Encoding sendiri merupakan tindakan menghasilkan pesan dengan cara menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau kertas atau media lainnya, sehingga menjelmakan gagasan melalui kode-kode tertentu. Kebanyakan dari kita kesulitan membuat encoding sebuah pesan. Sehingga, tak jarang pesan tidak sampai ke tujuan.

Seorang jurnalis dituntut untuk mampu melakukan kegiatan encoding sebuah pesan dari sumber pesan ke penerima pesan.

Decoding adalah menterjemahkan gelombang-gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan. Dengan kata lain, menterjemahkan sebuah kalimat menjadi sebuah kata.

Komunikator sendiri adalah encoder sekaligus decoder.

Ethos-Credibility

Foto: simply-speaking.co.uk

Ethos merupakan salah satu karakter dari seorang komunikator yang baik. Ethos sendiri merupakan seperangkat karakter yang baik dan melekat pada diri seorang komunikator. Dengan kata lainnya, Ethos adalah seperangkat komponen-komponen yang dinilai positif pada diri seseorang.

Ethos sendiri menurut Aristoteles terdiri dari Good Sense (Pikiran yang Baik), Good Moral Character (Akhlak yang Baik), dan Good Will (Maksud yang Baik). Ethos ini akan membawa hasil yang baik pada hubungan berkomunikasi.

Bisa disimpulkan, Ethos berhubungan dengan kepercayaan. Misalnya saja masyarakat tidak akan percaya kepada orang yang berbicara tentang kesederhanaan, tetapi hartanya berlimpah dengan hasl korupsi.

Credibility menurut Hovoland dan Weiss, terdiri dari Expertise (keahlian) dan Trust Worthiness (dapat dipercaya). Dengan kata lain, seseorang dipercaya karena memiliki keahlian dan kejujuran.

Ethos dan Kredibilitas merupakan seperangkat persepsi dari komunikan terhadap komunikator. Persepsi sendiri adalah pandangan orang-orang terhadap seseorang.

Syarat-syarat menjadi komunikator yang handal, adalah sebagai berikut:

Mengenal Diri Sendiri (Self Awareness – Sadar Terhadap Diri)
Untuk menjadi komunikator yang baik, seseorang harus mengenal dirinya sendiri. Untuk memahai konsep mengenal diri sendiri, bisa menggunakan konsep Johary Window, sebuah konsep dalam psikologi. Dalam konsep ini, dipaparkan keunggulan dan kelemahan diri.
Berikut adalah skema dari Johari Window.

Keterangan:

  • Known to Others => Sesuatu yang diketahui orang lain
  • Known to Self => Sesuatu yang diketahui diri sendiri
  • Open Area
    Daerah Terbuka (Open Self) berisi informasi perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, adat istiadat, kebiasaan, dan lain sebagainya, yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain. Hal ini dapat membantu memperlancar proses komunikasi.
    Besarnya Daerah Terbuka berbeda untuk masing-masing orang. Perubahan pada daerah terbuka atau pada sembarang daerah atau kuadran, akan mengakibatkan perubahan pada kuadran-kuadran yang lainnya.
  • Hidden
    Daerah Tertutup (Hidden Self) mengandung semua hal yang diketahui mengenai diri sendiri dan orang lain, tetapi hanya disimpan untuk diri sendiri.
  • Blind
    Daerah Buta (Blind Self) berisikan informasi tentang diri kita yang diketahui orang lain, tetapi kita sendiri tidak mengetahuinya. Sebagian orang yang memiliki daerah buta yang luas dan tampak, tidak menyadari berbagai kekeliruan yang dibuatnya.
    Bagaimana pun, komunikasi dan interaksi menuntut keterbukaan pihak-pihak yang terlibat. Bila ada daerah buta, komunikasi bisa menjadi sulit.
  • Darkness
    Daerah Gelap adalah bagian dari diri kita yang tidak diketahui, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Ini adalah informasi ang tenggelam di alam bawah sadar, atau sesuatu yang luput dari perhatian.
  • Seluruh daerah tidak sama luasnya, tergantung orangnya masing-masing. Dalam komunikasi, semakin besar daerah yang Blind, Hidden, dan Darkness, proses komunikasi akan semakin sulit. Bagaimana pun, dalam berkomunikasi, harus menjadi diri yang terbuka, dan untuk terbuka, harus sadar diri (Self Awareness).

  • Memiliki Ethos Komunikator
    Ethos Komunikator meliputi kredibilitas (source credibility), expertise, dan source attractiveness serta source power.

sumber http://herwiafriliyanti.blogspot.com/2011/03/konteks-komunikasi-terdiri-dari-3.html

 

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s