SaveShark Indonesia

Hiu. Mereka terdiri dari beragam spesies, mulai dari seukuran telapak tangan, seperti Euprotomicrus bispinatus, hingga sebesar 12 meter, seperti Rhincodon typus. Sebesar apa pun wujudnya, ketika mendengar nama “hiu” disebut, banyak pikiran yang memprosesnya sebagai ancaman atau minimal kengerian. Hiu dianggap berbahaya untuk manusia. Yang belakangan marak adalah hiu dianggap berkhasiat untuk mengobati beragam penyakit sehingga lazim untuk dikonsumsi.

Hiu pada faktanya adalah predator teratas yang punya peran penting untuk mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan. Ketika populasi hiu di perairan terjaga kelestariannya, ia barulah mampu menyeimbangkan ekosistem laut, dalam hal ini menjaga ikan-ikan yang biasa kita konsumsi tetap berlimpah.

Adalah fakta pula bahwa hiu adalah hewan yang dilindungi. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan 12 jenis hiu dalam daftar Appendix 1, 2, dan 3, yang secara garis besar berisi larangan memperdagangkan suatu spesies karena terancam punah (1), pengaturan pengelolaan spesies melalui aturan perdagangan yang ketat (2), serta perlindungan spesies setidaknya di satu negara anggota CITES. Di luar itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mendaftarkan banyak spesies hiu dalam Red List of Endangered Threatened Protected Species. Belum lagi, keberadaan International Plan of Action (IPOA) dari Food and Agriculture Organization (FAO) tentang perlindungan hiu yang harus ditaati oleh negara-negara anggota FAO dengan membuat National Plan of Action (NPOA) atau Renjana Kerja Aksi. Indonesia sudah turut mendukung NPOA, hanya saja belum ada kekuatan hukum yang mengikat di dalamnya.

Hiu nyatanya memang terancam punah. Banyak perburuan hiu, termasuk di perairan Indonesia, yang dilakukan oleh para nelayan atau pihak-pihak tertentu yang merasa hiu memiliki nilai jual tinggi. Indonesia, berdasarkan laporan TRAFFIC periode 2000-2010, bahkan disebut sebagai penangkap hiu terbesar di dunia. Hal ini karena tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu—baik itu sirip, minyak, atau kulit.

Seiring meluasnya problem hiu tersebut, pada akhir 2010, Majalah Divemag Indonesia mengamat-amati dan mencari kegiatan kelautan Indonesia untuk disosialisasikan dan lebih luas lagi dipublikasikan. Divemag Indonesia lalu menemukan bahwa di antara banyak isu, dukungan untuk penyelamatan hiu tidak kentara gaungnya. Sementara, saat itu, kesadaran dunia internasional akan pentingnya menyelamatkan hiu dari kepunahan sudah ramai digerakkan. Divemag Indonesia akhirnya menjadi inisiator untuk kampanye yang kini kita kenal dengan nama #SaveSharks Indonesia. Setelah satu tahun, pada 2011, kampanye menjadi lebih intens. Di saat-saat itulah, Itong Hiu lahir sebagai ikon #SaveSharks Indonesia.

Dalam perjalanannya, #SaveSharks Indonesia melakukan kampanye yang berfokus pada konsumen. Hal ini karena—belakangan diketahui bahwa—informasi yang sampai kepada konsumen tentang dampak negatif mengonsumsi hiu untuk kesehatan, hingga perihal nyaris punahnya hiu, hampir tidak ada.

Melalui kampanye #SaveSharks Indonesia, baik lewat social media maupun situs ini, diharapkan masyarakat yang seluas-luasnya kian memahami pentingnya menyelamatkan hiu untuk masa depan kita. Selamat bergabung bersama #SaveSharks Indonesia. Mari bersama-sama menyelamatkan hiu dari bahaya kepunahan.

Link sumber : http://savesharksindonesia.org/about/profile/

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s